Feliza Olivia, Teman-teman memanggilnya Oliv, seorang gadis kecil yang pertama kali aku kagumi...Meskipun saat itu aku masih kecil, masih dengan sifat kekanak-kanakanku, tetapi aku punya perasaan yang beda setiap kali melihatnya, Entah perasaan apa ini yang aku rasakan, aku suka dan kagum padanya..terasa senang banget saat aku berada di dekatnya, walau hanya sekedar berdiri disampingnya dan tak pernah dia sadar tingkahku aneh saat di dekatnya. Dan aku ini terlalu takut, bagiku pengecut!, jangankan mengajaknya berbicara, bertatapan mata dengannya saja aku tak berani.
Terasa samar kisah yang masih aku ingat benar, kurang lebih dari 10 tahun lalu saat itu aku masih di kelas 4 Sekolah Dasar, rasa suka yang tak dapat aku bendung, dan takut untuk ku utarakan.
Pada waktu itu istirahat jam sekolah, semua murid bergegas keluar kelas dan beristirahat, ada yang keluar untuk makan, ataupun hanya sekedar bermain bersama teman-teman, hanya aku yang tak ingin beranjak keluar dari kelas, aku asik memerhatikan Oliv yang duduk merapikan buku pelajaran serta alat tulisnya dengan terburu-buru, tanpa sadar pensil merah kesayangannya terjatuh, dia tak mengetahuinya lalu pergi keluar kelas. Pensil kesayangannya, pensil merah mekanik yang masih teringat samar di otakku, tidak banyak teman memakainya di kelas, teman-teman biasa memakai pensil raut biasa. Aku mendekati bangku Oliv yg sudah di tinggalkannya, lalu ku ambil pensil merah itu yang terjatuh di bawahnya, anehnya tak kuletakkan pensil itu di bawah laci bangku mejanya, malah aku ambil dengan niat akan aku kembalikan secara langsung padanya. Aku menyimpannya di bawah laci mejaku, menunggu waktu yang tepat untuk mengambalikannya pada Oliv.
Saat bel masuk sekolah berbunyi, jam isrtirahat selesai. Semua teman-teman kembali masuk ke kelas, begitu juga Oliv, Perasaan yang aku punya ini tiba-tiba muncul rasa takut kembali, terasa membeku, dari kaki, tangan, dan mulutku. Aku tak berani menghampirinya, lalu pensil ini? Ini miliknya dan aku harus mengembalikannya, karna aku bukan pencuri yang mengambil barang milik orang lain. Aneh, tubuhku kaku dan tak mau menuruti apa yang aku pikirkan, aku tak bisa mengembalikannya, terlalu takut yang mengalahkan semua niat dan keinginan yang ada, aku tak mengerti apa yang aku takutkan, aku tak mengerti kenapa aku seperti ini.
Sangat jelas terlihat wajah sedih di raut wajah Oliv, panik dan aku rasa mungkin karna pensil kesayangannya hilang, dia sibuk mencari dan hampir menangis, tetapi tak terlihat air mata yang berlinang di pipinya, Dari kejauhan aku melihat dengan rasa sangat bersalah. Tetapi aku tetap saja tak berani mengembalikan pensilnya.
Terasa samar kisah yang masih aku ingat benar, kurang lebih dari 10 tahun lalu saat itu aku masih di kelas 4 Sekolah Dasar, rasa suka yang tak dapat aku bendung, dan takut untuk ku utarakan.
Pada waktu itu istirahat jam sekolah, semua murid bergegas keluar kelas dan beristirahat, ada yang keluar untuk makan, ataupun hanya sekedar bermain bersama teman-teman, hanya aku yang tak ingin beranjak keluar dari kelas, aku asik memerhatikan Oliv yang duduk merapikan buku pelajaran serta alat tulisnya dengan terburu-buru, tanpa sadar pensil merah kesayangannya terjatuh, dia tak mengetahuinya lalu pergi keluar kelas. Pensil kesayangannya, pensil merah mekanik yang masih teringat samar di otakku, tidak banyak teman memakainya di kelas, teman-teman biasa memakai pensil raut biasa. Aku mendekati bangku Oliv yg sudah di tinggalkannya, lalu ku ambil pensil merah itu yang terjatuh di bawahnya, anehnya tak kuletakkan pensil itu di bawah laci bangku mejanya, malah aku ambil dengan niat akan aku kembalikan secara langsung padanya. Aku menyimpannya di bawah laci mejaku, menunggu waktu yang tepat untuk mengambalikannya pada Oliv.
Saat bel masuk sekolah berbunyi, jam isrtirahat selesai. Semua teman-teman kembali masuk ke kelas, begitu juga Oliv, Perasaan yang aku punya ini tiba-tiba muncul rasa takut kembali, terasa membeku, dari kaki, tangan, dan mulutku. Aku tak berani menghampirinya, lalu pensil ini? Ini miliknya dan aku harus mengembalikannya, karna aku bukan pencuri yang mengambil barang milik orang lain. Aneh, tubuhku kaku dan tak mau menuruti apa yang aku pikirkan, aku tak bisa mengembalikannya, terlalu takut yang mengalahkan semua niat dan keinginan yang ada, aku tak mengerti apa yang aku takutkan, aku tak mengerti kenapa aku seperti ini.
Sangat jelas terlihat wajah sedih di raut wajah Oliv, panik dan aku rasa mungkin karna pensil kesayangannya hilang, dia sibuk mencari dan hampir menangis, tetapi tak terlihat air mata yang berlinang di pipinya, Dari kejauhan aku melihat dengan rasa sangat bersalah. Tetapi aku tetap saja tak berani mengembalikan pensilnya.
Sampai bel berbunyi tanda sekolah telah usai, aku masih saja memerhatikan Oliv yang sedari tadi terlihat murung, tanpa semangat di raut wajahnya, berbeda dengan anak-anak lain yang bersemangat mendengar bel pulang sekolah ini, Pensilnya masih ku genggam erat, dan aku memasukkannya ke dalam tasku.
Sesampai aku di rumah, aku membuka tas dan mengambil pensil merah itu. Selalu terbayang di benakku bayangannya, Aku berkhayal membayangkan aku bisa berbicara dengannya, tertawa bersamanya, bahkan mungkin bermain bersamanya, tapi rasa takut ku ini yang membuat aku tak bisa, dan merasa semua itu adalah hal yang mustahil aku lakukan.
Setelah beberapa saat bersama pensil merah itu, terlintas di benakku untuk menulis dan mengirim surat kepada Oliv. Bodoh!, tanpa berfikir panjang aku mengambil secarik kertas dari buku sekolahku, lalu mulai menulis satu-persatu tentang perasaan yang aku punya untuk dia..Aku lupa dan tak bisa ku ingat jelas semua isi surat yang aku tulis itu, yang jelas aku mengutarakan semua tentang apa yang ada di hatiku, hanya satu yang ku ingat jelas, aku tak menggunakan namaku di dalam surat itu, aku hanya menggunakan " Pengagum Rahasia ".
Keesokan harinya, saat jam istirahat yang sama, aku tetap duduk di dalam kelas sendirian, Saat kelas sudah sepi tinggal beberapa teman. Aku mencuri-curi kesempatan untuk menaruh surat itu di dalam tas Oliv, membuka tas Oliv perlahan dan sembunyi-sembunyi, setelah berhasil, aku cepat berlari keluar kelas dengan perasaan yang campur aduk, senang bahagia, satu sisi aku merasa takut dan malu, aku takut jika dia mengetahuti bahwa surat itu dari aku dan Si Pengagum Rahasia itu adalah aku. Terlintas dalam benakku, berharap Oliv tidak pernah membacanya, tapi semua telah terjadi aku tak mungkin kembali mengambil surat itu lagi.
Semenjak kejadian surat itu, aku semakin takut untuk dekat-dekat pada Oliv, Bahkan aku tak pernah sedikitpun berbicara padanya, sampai kami sama-sama telah lulus sekolah dan tak pernah bertemu lagi, aku juga kehilangan pensil merah miliknya, yang pernah membantuku untuk menulis curahan hatiku untuk dirinya..
Jika waktu bisa berputar ulang, aku ingin menyimpan pensil itu. Dan aku mengembalikannya tanpa perasaan takut seperti itu, atau mungkin aku ingin kembalikan padanya saat bertemu lagi, saat aku dan Oliv sudah sama-sama dewasa, saat aku sudah tak malu-malu seperti dulu...~
